Pages

Subscribe:

Kamis, 25 Agustus 2011

Allah Sebagai Bapa dan Ibu (ditinjau dari perspektif gender)

Share
Tema Teologi Feminis;
1.  ALLAH DALAM PERSPEKTIF GENDER: BAPA DAN IBU

Tema teologi feminis yang akan adalah Allah sebagai Bapa dan Ibu. Tema ini tentunya bersumber dari pemahaman tradisi kekristenan yang sudah berakar dari zaman dulu sampai sekarang. Masalah utama yang dilihat adalah bagaiman Tuhan di dalam kekristenan di pahami oleh manusia yang mempunyai segala keterbatasan sehingga tidak bisa memahami Tuhan itu.
ALLAH SEBAGAI BAPA
Allah sebagai Bapa mengindikasikan beberapa hal penting yaitu ;
1.      Allah adalah seorang laki-laki
Kata ganti orang ketiga yang digunakan untuk menandai Allah sering mengacu pada pengertian seorang laki-laki misalnya dalam bahasa Inggris “He”. Hal yang sama juga berlaku bagi sebagian bahasa yang mengalami dualitas jenis kelamin pada ganti orang ketiga dan mereka lebih memilih untuk menggunakan kata yang disandang bagi seorang laki-laki. Pemahaman seperti ini, bisa kita temukan dalam bahasa yang digunakan dalam Alkitab dari bahasa-bahasa yang mempunyai dikotomi kata ganti orang tersebut.
Dari pemilihan untuk menggunakan kata dalam suatu bahasa tentu mengindikasikan pola pemikiran dari orang-orang yang ada di balik penggunaan tersebut. Penggunaan kata “He” dalam bahasa Inggris misalnya, tidak muncul begitu saja, tapi tentu lahir dari pemikiran dari orang-orang yang memilih kata tersebut. Atau dengan kata lain setiap kata tidak dikeluarkan dari kekosongan tapi ada maksud di balik kata tersebut.
Pemahaman Allah sebagai seorang yang bergelar laki-laki tentu menampilkan sosok Allah yang begitu maskulin. Tentunya hal ini lahir dari konteks masyarakat yang cukup patriakhal yang mengabaikan sifat feminin dari Allah.

2.      Allah bukanlah seorang Perempuan
Pandangan bahwa Allah sebagai Bapa, berarti secara langsung atau tidak, menyampingkan sifat-sifat Allah sebagai seorang Ibu dan menolak anggapan bahwa Allah adalah juga perempuan.
Ada beberapa ahli yang coba melihat bahwa gambaran Allah sebagai seorang perempuan sering di hilangkan di dalam Alkitab, karena konsep ini merupakan ajaran dari agama-agama Kanaan tentang dewi-dewi.

Beberapa Gelar funsional untuk Allah
Istilah “Allah sebagai Bapa”
Kata “Bapa” yang digunakan dalam menyapa Allah memiliki banyak arti dalam kebudayaan yang berbeda pula. Namun agaknya sapaan seperti ini lahir dalam konteks yang sangat begitu patriakhi yang lebih menjunjung/menghargai seorang Bapa, dibandingkan seorang Ibu.
Istilah “bapa” tersebut mencakup dua pemahaman yang sangat berbeda. Disatu sisi kata bapa menggambarkan sapaan dari anak terhadap ayah yang mengasihi, melindungi dan membina anak tersebut saat kecil dan bahkan menjadi panutan dalam membentuk jati diri dari sang anak. Namun, di sisi yang lain, istilah “bapa” atau “bapak” menunjuk pada pemimpin masyarakat yang menjamin keamanan dan keadilan serta mengembangkan kesejahteraan rakyat yang mereka pimpin. Untuk itu rakyat harus mematuhi para bapak dengan rasa ketakutan[1].
Pemahaman tersebut lahir dari keadaan seorang bapa yang nyata atau secara biologis. Dan terkadang sebagian kecil gambaran dari realitas Allah yang besar itu dipakai sebagai pemahaman tentang Allah yang sebenarnya. Seperti dalam beberapa bangsa kuno bahkan menyebut Yang Ilahi sebagai Bapa[2]. Untuk itu kita harus berhati-hati terhadap pemahaman “bapa” dalam arti biologis sering dicampuradukan dengan metafor yang mau digambarkan untuk sapaan terhadap yang ilahi tersebut.
Pemahaman seperti ini pun sangat mengganggu apabila kita letakan pemikiran kita bahwa Allah sebagai Bapa sama persis dengan bapa biologis/ bapa dunia. Karena orang-orang yang mungkin bermasalah dengan bapa dunia akan merasa terganggu dengan sebutan ini.

Beberapa Analogi dan metafora untuk Allah dalam kesaksian Alkitab
Bahasa tentang Allah yang dikemukakan dalam kitab suci adalah serentak berciri analogis dan metaforis. Salah satu hal yang membuat bahasa tentang Allah berbeda dari bentuk-bentuk bahasa yang lain ialah bahwa bahasa tentan Allah itu memiliki suatu dinamika. Menyangkut masalah bahasa analogis, misalnya ketika kita menemukan gelar-gelar yang secara erat dipertalikan dengan Allah, seperti Allah itu adil, atau Allah itu baik. Maka penegasan ini sekaligus mengandung negasi inheren: Allah itu adil dan baik dalam pengertian superlatif.
Dalam kitab suci, metafora memainkan peran dalam tampilannya cerita tentang relasi antara yang ilahi dan insani. Berbagai metafora tentang Allah dalam kitab suci bersifat figuratif, dan tidak boleh dipahami secara harafiah. “Bapa” serentak merupakan sebuah metafora dan analog tentang Allah.
Untuk mengerti penggunaan sapaan Bapa untuk menyebut Allah, maka yang pertama-tama harus kita lakukan adalah melihatnya dari kesaksian Alkitab

a.       Dalam Perjanjian Lama, ada istilah seperti “Khalik” “Pembuat Perjanjian” dan “Pembebas”. Semua itu dikaitkan dengan karya-karya Allah sebagaimana yang diwahyukan didalam kitab Suci. Iman Alkitabiah menegaskan bahwa Allah sendirilah yang menciptakan segala sesuatu (Kej 1:1-2:4a), yang memprekasai sebuah relasi dengan umat Israel di dalam sebuah perjanjian yang kudus (Kel. 20), dan yang memerdekakan bangsa ini dari perbudakan di Mesir (mis Kel 12-14). Gelar-gelar ini menerangkan siapa Allah itu bagi umat Israel ketika kitab suci itu mulai disusun. Walau tak satupun dari gelar-gelar ini atau aktifitas yang diacunya secara inheren berciri maskulin. Namun rupanya, orang cenderung membayangkan Allah sebagai seorang laki-laki ketika ia melakukan karya-karya ini, oleh karena pengaruh patriakhal atas kebudayaan mereka. 
Gelar-gelar lain yang ada dalam PL juga ada raja dan Israel disebut sebagai anak Allah (Kel.4:22 dan Hos. 11:1) sehingga Allah di lihat sebagai Bapa atau orangtua. Ia digambarkan sebagai pencipta yang senantiasa memelihara umatNya dengan penuh kasih sayang seperti seorang bapa (Bnd. Mzm. 103:13 dsb.)
b.      Dalam Perjanjian Baru terutama dalam karya Yesus;
ü    Kata yang dipakai Yesus untuk memanggil Allah adalah “Abba” (Bahasa Aram) yang menunjukan suatu sapaan yang mesra dari seorang anak terhadap bapanya dan sebutan ini menunjukan suatu relasi yang sangat dekat antara seorang anak dan bapanya. Dalam doa Bapa kami juga Yesus menyebut Allah sebagai Bapa. Ia hidup dalam persekutuan yang erat dengan Bapa itu. (Luk. 2:49 dsb.) Untuk itu, siapa yang menyangkal Yesus akan ditolak oleh Bapa-Nya.[3]
ü    Perumpamaan yang disampaikan Yesus di dalam Injil adalah metafora luas, banyak diantaranya mengemukakan pemahaman tentang Allah yang memiliki suatu unsure kejutan. Dalam perumpamaan yang dikenal sebagai “perumpamaan tentang anak yang hilang”, Yesus menyajikan suatu gambaran verbal tentang Bapa semacam manakala Allah itu (Luk. 15:11-32).
ü    Dalam Injil Yohanes sangat menekankan hubungan yang mesra antara Bapa dan Anak. Bapa berada di dalam anak (14:20), itu sebabnya Anak melakukan kehendak Bapa (4:34 dst). Dan siapa yang percaya pada anak akan memperoleh hidup yang kekal.

Dari kesaksiaan Alkitab, yang paling menjadi perhatian adalah penggunaan sapaan “Bapa” oleh Yesus dan murid-murid-Nya. Hal ini terjadi karena orang Kristen tidak taat kepada perintah Yesus untuk tidak menyebut siapapun sebagai bapa, karena engkau hanya mempunyai seorang Bapa. Pandangan ini telah menjadi suatu legitimasi terhadap patriakhi gerejawi dan sosial dengan nama Allah sebagai Bapa, sehingga nama Allah digunakan dengan sia-sia.
Ucapan Yesus menggunakan nama Allah sebagai “Bapa” bukan sebagai legitimasi untuk struktur kekuasaan patriakhal yang ada di dalam masyarakat atau gereja. “Bapa” sebagai Allah dari Yesus memungkinkan persaudaraan manusia, dengan menyangkal hak keberadaan bapa mana pun, dan semua bentuk patriakhi. Hubungan dengan bapa mungkin sedikit bersifat Eksklusif dimana tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat di panggil bapa karena hanya ada satu Bapa (Mat 23:9).
Sebagai Bapa, Allah mengenal kebutuhan anak-anak  dan memberikan apa yang mereka perlukan (Mat. 6:32; 6:6; 7:11; Luk 12:30). Dia yang memelihara burung juga memelihara anak-anak. Kesaksiaan Allah seperti ini memang menggambarkan kurangnya nada patriakhal dalam panggilan Allah sebagai Bapa. Namun tetap ada unsure-unsur patriakhal dalam memilih gambaran ini.

Gambaran Allah Bapa sebagai Metafor yang terbatas
Allah di sebut sebagai Bapa, baik di dalam PL atau PB merupakan cara orang untuk menggambarkan Allah yang begitu besar. Gambaran/metafor ini tentunya sangat terbatas dan tidak bisa menjangkau pengertian seluruhnya dari apa yang mau dijelaskan oleh gambaran tersebut. Keterbatasan bahasa manusia ini kemudian menjadi salah satu sarana untuk mendukung pemikiran yang patriakhi. Gambaran Allah sebagai Bapa menimbulkan para Bapa lain di dunia yang mengatasnamakan seluruh umat untuk mendapatkan kekuasaan. Realitas Allah yang besar itu kemudian dikucilkan dengan memberikan Allah seolah-olah mempunyai kelamin dan itulah laki-laki. Bapa di maksudkan untuk menyatakan kasih sayang Allah yang memelihara bukan untuk menyatakan secara ontik bahwa Allah adalah seorang Pria.[4]

ALLAH SEBAGAI IBU
Maria de Groot seperti yang dikutip dalam buku Tersentuh dan Bebas (Marianne Katoppo; 2007, Hlm. 91-92) mengklaim bahwa hiperbol laki-laki dan litote perempuan telah menyebabkan bahwa banyak dari kita percaya bahwa “laki-laki = Allah, jadi Allah = laki-laki”. Dan kalau demikian maka perempuan itu apa?
Pada umumnya kaum Feminis setuju bahwa adanya suatu penyingkiran kiasan Allah sebagai Ibu dalam tradisi Kristen. Hal ini dianggap sebagai suatu keistimewaan sovinis laki-laki yang tipikal.[5] Padahal Allah sangat tidak asing dalam pengalaman perempuan.
Pada mulanya, “maha-Ibunda” dilihat sebagai dewi ataupun Ibu ilahi; tetapi di bawah pengaru agama Kristen maupun Islam, Allah dilihat sebagai Khalik dan Pemelihara dunia ciptaanNya. Apalagi dalam lingkungan patriakhal, hubungan ibu dengan anak berlaku hanya pada lingkungan keluarga. Ibu dan anak berada di bawah kuasa kepala keluarga yang mewakili mereka keluar. Dengan demikian, ibu dilihat sebagai pribadi yang memenuhi kebutuhan fisik dan emosional anaknya, dan peran itu dianggap tidak sesuai untuk Allah. dari gambaran seperti ini maka yang kita kenal hanyalah Tuhan, Raja, Bapa, Penguasa, dll. Namun kita kurang mengetahui gambaran tentang Ibu, penghibur dan pemberi kehidupan.
Memang kesaksiaan Alkitab mengenai kiasan Allah yang mengasihi manusia sama seperti seorang Ibu sangat sedikit dibandingkan dengan Bapa,
·         Ulangan 32;11&18 menggambarkan Allah seperti induk rajawali yang menjaga anakNya dan ia juga melahirkan bagai seorang perempuan.
·         Yesaya 42:14 Allah digambarakan seperti seorang perempuan yang sakit bersalin. Ia mengerang bagaikan seorang perempuan yang hendak melahirkan.
·         Hosea 11:3-4 Ia mengajar anak balitaNya berjalan dan membungkuk lalu menyuapnya
·         Yesaya 46:3-4 Ia mendukung anakNya sejak dikandung, memikul dan menyelamatkan.
·         Yesaya 66:13 Ia menghibur anakNya sebagaimana biasa dilakukan oleh seorang ibu.
·         Yesaya 49:15 Ia tidak pernah melupakan anak kandungnya sekalipun ada ibu yang melupakan anak kandungnya.
Disamping gambaran-gambaran di atas, ada juga konsep mengenai feminitas Allah yang sangat terkenal yaitu Rechem dan Sofia.
1)      Dalam Keluaran 34, ada kata Ibrani Rechahim “רבעיםyang digunakan untuk menjelaskan rahmat Allah. Dan secara harafiah artinya “gerakan rahim” (“רחםrechem). Tampak di sini ada unsur feminin yang sangat Nampak. Karena mana mungkin laki-laki mempunyai rahim. Hal ini tampak adanya suatu usaha untuk menutupi suatu pandangan feminisitas Allah.
2)      Tradisi-tradisi Yesus yang paling tua memahami Allah dari kebaikan Allah yang penuh rahmat dalam Gestalt seorang perempuan sebagai Sofia[6] yang ilahi. Allah-Sofia dari Yesus mengakui seluruh umat Israel sebagai anak-anakNya
Sofia Ilahi adalah Allah Israel di dalam bahasa dan Gestalt kedewian. Sofia dipanggil saudari, istri, ibu, kekasih, dan guru. Ia adalah pemimpin jalan, pengkhotbah di Israel, pengerah tenaga kerja dan Allah sang pencipta. Sofia digambarkan sebagai yang “tidak dapat dirusak, arif, bijaksana, tunggal.” Ia adalah roh yang mengasihi manusia yang berbagi tahkta dengan Allah.[7] Ia adalah arif akan pengetahuan Allah, rekan dalam pekerjaan Allah maupun gambaran terhadap Allah itu sendiri.
Realitas tentang Allah-Sofia ini terungkap di dalam pemberitaan, penyembuhan, pengusiran setan, dan persekutuan dengan Yesus yang terbuka sehingga ia memilih murid-murid untuk melanjutkan apa yang dilakukanNya. Sofia, Allah dari Yesus, menghendaki keutuhan dan kemanusiaan dari setiap orang. Seperti halnya Yesus, mereka (murid-murid) diutus untuk memberitakan kepada setiap orang di Israel kehadiran Kerajaan Allah, sebagai masa depan yang penuh rahmat dari Allah, di antara mereka yang miskin, yang kelaparan, para pemungut cukai, orang berdosa, dan pelacur.


ALLAH SEBAGAI BAPA DAN IBU
Usaha manusia untuk menggambarkan Allah sesuai dengan konteks dan pengalaman manusia misalnya dengan menyebut Allah sebagai Bapa maupun Ibu tidak bisa diartikan sebagai suatu konstruksi Gender yang langsung diletakan kepada Allah itu. Singkatnya, bahasa tentang Allah di dalam kitab suci adalah beraneka ragam dan kompleks. Semua itu harus dipahami sebagai suatu metafor dan metafor itu sangat terbatas untuk menjelaskan realitas Allah yang besar. Bahkan Yesus berbicara mengenai Abba bukanlah untuk menunjukan bahwa Allah adalah benar-benar seorang Bapa-lelaki secara biologis. Namun penggambaran Allah sebagai Bapa adalah bagian kecil dari bermacam-macam gambaran Allah tersebut. Dengan demikian, Allah tidak bisa dibatasi dengan menggunakan kata Bapa atau Ibu, tapi di bebas dan tidak terukur dan lebih besar dari konsep Bapa dan Ibu tersebut.
Allah yang kita sembah tentunya tidak mempunyai jenis kelamin, ia adalah Roh yang bebas dan tanpa batas, sifat dan fungsi roh sebagai Allah yang menciptakan, yang menghibur, dan memberikan kehidupan bagaikan seorang ibunda yang baik. Dan jika kita membatasi kegiatan roh itu, berarti merupakan penyangkalan kebebasan itu.
Gambaran Alkitab maupun sepanjang sejarah tradisi Kekristenan dalam memandang Allah sebagai Bapa maupun Ibu, harus dilihat dari berbagai aspek. Setidaknya gambaran tersebut tidak menimbulkan tafsiran-tafsiran yang patriakhal sehingga muncul kaum lelaki yang mendominasi dan mendiskriminasi kehidupan kaum perempuan dalam kehidupan berbangsa, gereja maupun masyarakat. Bapa dan Ibu menunjuk pada hubungan yang dekat antara manusia dengan Allah, seperti Bapak dan Ibu yang sayang kepada anaknya dan anak tersebut kembali menyayangi Orangtuanya. Bukti dari hati Allah bagaikan seorang Bapa maupun Ibu terhadap Anak-anakNya (manusia) adalah mengorbankan Yesus sebagai Anaknya ditiang Kayu salib sebagai penebus dosa umat manusia. Untuk itu, Allah adalah Allah yang mahakuasa.
Allah Trinitas
Gambaran Allah yang trinitas sering menempatkan Allah yang maskulin. Menurut Anne M. Clifford, pertama-tama mesti ditekankan bahwa kepercayaan akan Allah yang Esa dan Tritunggal tidak boleh disepadankan begitu saja dengan sebutan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Perhatian terhadap metafora-metafora Alkitabiah untuk Allah, dan bagaimana metafora-metafora besinggungan dengan pengalaman kaum perempuan menjdai perkara yang penting. Allah memiliki banyak nama, menyelisik jati diri Allah dalam gambaran maskulin dan feminine akan menyanggupkan baik kaum perempuan maupun laki-laki untuk mengembangkan suatu nrelasi ynag jauh lebih kaya dengan Allah Tritunggal.
Allah bagi agama Kristen merupakan persekutuan hidup dan kasih dari tiga pribadi yang secara sangat mendasar berhubungan satu sama lain dengan dunia. Sederhananya, di dalam Allah Tritunggal, pewahyuaan diri Allah terjadi di dalam dan melalui relasi. Patricia Wilson-Kastner, seoran pendeta dan teolog dari Gereja Episkopal, menegaskan bahwa dengan membayangkan Allah sebagai satu persekutuan dari tiga pribadi kita terdorong untuk memusatkan perhatian pada relasi sebagai intipati dari keyakinan Kristen. Sejarah tradisi Kristen memperlihatkan bahwa ada suatu kecenderungan yang kuat di dalam gereja Kristen, terutama di Barat, untuk memusatkan perhatian pada Allah seolah-olah Allah itu hanya satu pribadi semata-mata. Hal ini menyebabkan Allah justru dibayangkan sebagai “laki-laki, patriak dan mendominasi. Monoteisme yang sempit tidak mampu melihat bahwa doktrin agama Kristen “relasi merupakan intipati keberadaan Allah, bukan sekedar kesatuan kosong, atau suatu monarkhi ilahi yang terisolasi. Monoteisme semacam itu juga mengabaikan perkara-perkara penting dlam keyakinan akan Allah tritunggal itu bisa memiliki relevansi praktis bagi kehidupan kita.
Apakah yang lebih praktis lagi selain pengakuan bahwa iman Kristen akan Allah sebagai keesaan tiga ribadi mengokohkan relasi sebagai intipati dari jati diri Allah? Allah agama Kristen tidak dapat dipasung sebagai melulu satu Allah atau pada tiga ilahi secara individual. Allah adalah persekutuan dari yang tiga, ketritunggalan pribadi-pribadi yang baginya berada dalam relasi bukanlah sesuatu yang yang ekstrinsik dari berada sebagai Allah. doktrin Alla Tritunggal sebagai simbol utama teologi Kristen memiliki potensi untuk membentuk ulang jatidiri orang-orang Kristen memiliki potensi untuk membentuk ulang jatidiri orang-orang Kristen sebagai pribadi. Dari sisi tilik hermenutika,simbol trinitas menggugah pikiran ke suatu pemahaman yang baru;menjadi pribadi (entah ilahi atau insane) berarti menjalin relasi dengan orang-orang lain, mendukung dan menumbuhkembangkan kehidupan di dalam kebersamaan dan persekutuan.
Dalam tarian Tritunggal yang abadi ini,ketiga pribadi itu walaupun berbeda namun satu. Kasih, fundasi dari kehidupan ilahi, menciptakan ikatan bagi kesatuan di antara ketiganya. Inilah drama dalam nya ketiga pribadi itu berputar dan saling berjalin dalam gerakan yang tiada berkesudahan. Sebagai tiga seronggeng, pribadi-pribadi itu diikatsatukan satu dengan yang lain oleh tambatan kasih; keunikan dan kesatuan ada bersama. Gambaran tentang perichoresis ilahi mengundang sekalian orang, terutama orang-orang kristen, untuk bergabung masuk ke dalam harmoni Trituggal ini. Masuk ke dalam keselarasan ini berarti mengalami rahmat persekutuan dengan ketiga pribadi ilahi. Tanggapan yang pantas dan selayaknya ialah pertama dan terutama pujian atas berkelimpahan kasih karunia serta kasih karunia Allah yang membarui.










[1] M. C. Barth Frommel, Hati Allah Bagaikan Hati Seorang Ibu, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006) Hlm. 149
[2] Terutama agama ari bangsa kuno yang mempengaruhi kekristenan seperti di Siria, Palestina Kuno. Ibid 148
[3] Mat. 10:32; 18:35 & Yoh 15:23
[4] Marianne Katoppo, Tersentuh dan Bebas, (Aksara Karunia, 2007) Hlm. 97
[5] Ibid 94
[6] Atau Hikmat dalam Bahasa Ibrani: Hokmah, Bahasa Yunani: Sophia, Bahasa Latin: sapientia  lihat juga M. C. Barth Frommel, Op. Cit., Hlm. 205
[7] Elizabeth S. Florenza, Untuk Mengenang Perempuan Itu, (Jakarta; BPK Gunung Mulia, 1995) HLM 184

Baca juga yang lain



1 komentar:

daone mengatakan...

Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak makan dan tidak minum. Dan tidak ada satu mahluk pun di Alam semesta ini yang menyerupai dirinya

Poskan Komentar

Hai Sobat, Jangan Lupa komentar yah.