UNTUK SAHABATKU
Hari ini saya hampir menghabiskan setengah hari hanya untuk sahabat ku Ama. Menemaninya mengurusi kepergian yang tak pernah dibayangkan untuk pergi jauh dari Ambon. Memang tak pernah tega untuk membiarkan ia pergi berkuliah ke tempat lain, namun inilah keputusannya yang harus kita terima, walau sebenarnya sulit.
Ama, itulah sahabatku. Semenjak berada di Fakultas Teologi kami berada dalam satu proses yang begitu “keras”, namun pada saat itu belum terlalu saling mengenal. Begitu juga sampai dengan awal-awal perkuliahan semester satu. Nama Ama waktu itu sangat asing. Yang ku kenal saat semester 1 hanyalah dia (ama) yang pendiam, yang selalu membantu temannya, dan orang yang mungil. Bahkan mungkin saat semester pertama perkuliahan, kita semua tidak terlalu begitu familiar dengan nama tersebut. Namun ceritanya lain, ketika Ama lah yang menjadi orang yang mecetak IP tertinggi pada saat itu (3,62). Dan Aku harus puas memiliki IP yang berada dibawahnya.


